Indahnya Berbagi

Kompas.com – Rasanya tidak ada orang yang ingin mengalami stres. Namun sebenarnya kita tak perlu “alergi” berlebihan pada stres, karena dalam taraf tertentu stres justru bermanfaat untuk memancing kreativitas.

Stres adalah respon mental seseorang dalam menghadapi berbagai persoalan. Ketika tubuh menghadapi sesuatu yang mengancam atau tekanan, ada dua respon yang muncul, yaitu melawan (fight) atau ikut terseret dalam ancaman itu (flight). Dalam kondisi ini tubuh akan mengeluarkan hormon adrenalin, hormon kortisol dan hormon stres lainnya.

Bila stres ini terjadi sesekali justru akan menimbulkan respon tubuh yang efektif. “Stres yang bermanfaat itu disebut dengan stres yang sehat atau eustress,” kata dr.Surjo Dharmono, Sp.KJ (K), dari Departemen Psikiatri Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Peningkatan hormon adrenalin tadi, papar dr.Surjo, akan membuat tubuh lebih energik. Pelepasan hormon kortisol yang memicu gula darah juga akan membuat energi bertambah. Untuk bisa berpikir kreatif, otak juga membutuhkan energi.

“Stres seperti itu adalah stres yang well-organized atau bisa disebut dengan tantangan. Perusahaan sebetulnya bisa menciptakan stres yang seperti ini untuk meningkatkan produktivitas karyawannya,” katanya dalam acara media edukasi Mengelola Stres dan Depresi dengan Benar yang diadakan oleh Pfizer beberapa waktu lalu.

Beban kerja yang tinggi bisa berdampak berbeda pada setiap orang. Target yang tinggi adalah stressor, suatu keadaan yang bisa memicu stres. Jika target ini dianggap beban, maka akan menimbulkan stres. Namun jika kita melihatnya sebagai sebuah tantangan, maka hidup menjadi lebih menggairahkan. Stres mendorong kita untuk maju.

Supaya stres mendorong produktivitas, tentu saja perusahaan harus menciptakan sistem yang baik. Misalnya mekanisme pemberian reward yang konsisten, pemberian tugas yang jelas, model kepemimpinan yang baik, dan masih banyak lagi. Jika tidak yang terjadi justru sebaliknya, karyawan merasa buntu dan tidak mendapatkan penyelesaian.

Stres yang tidak terorganisasi itu dalam jangka lama akan menimbulkan penderitaan. Orang yang mengalaminya bisa menjadi depresi, cemas, gangguan panik, kelelahan kronik, hingga keluhan psikosomatik.

“Stres bisa membuat hidup menjadi dinamis, tapi stres akan berbalik merugikan jika kemampuan seseorang menghadapi masalah justru menurun,” katanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: