Indahnya Berbagi

Pendengar Aktif

Seringkali kita terjebak pada permasalahan persepsi dalam dunia komunikasi. Kita mevonis seseorang padahal kita tidak mengetahui kedalaman pribadi orang tersebut sehingga berakibat fatal terhadap penafsiran yang kita lakukan terhadap orang tersebut. Baru pertama kali bertemu kita sudah merasa benci atau sebaliknya terlalu memuji terhadap eksistensi orang yang baru kita kenal, namun tidak demikian setelah kita mengenalnya agak dalam. Dalam kehidupan sehari-hari kita sering salah paham, karena urusan salah persepsi orang bisa saling membunuh. Bahkan dalam Magnus Opusnya yang Populer tentang Ilmu Komunikasi, Guru Besar Komunikasi Unpad Prof. Deddy Mulyana, Ph.D., menyatakan bahwa terjadinya pengeboman Hiroshima dan Nagasaki sekitar tahun 1940-an disebabkan oleh salah paham karena salah persepsi sehingga berakibat fatal hancurnya 2 kota dengan ribuan orang tewas seketika dan hingga bertahun-tahun meninggalkan trauma bagi orang yang selamat.

Dalam dunia kerja, Komunikasi pun sangat berperan penting agar tidak terjadi salah paham baik antara atasan dan bawahan, sesama rekan kerja atau dengan para pelanggan. Namun yang jelas dalam semua segmen kehidupan komunikasi sangat berperan penting agar sukses dalam hubungan. Bahkan komunikasi bisa membuat orang hidup atau mati, seperti halnya pernah diungkapkan oleh Pakar Psikologi Komunikasi Jalaluddin Rakhmat bahwa jika bayi tidak mendapatkan sentuhan dari orang tuanya diprediksikan bahwa bayi tersebut akan cepat meninggal.

Permasalahannya kemudian mengapa seringkali kita salah paham, bukankah komunikasi itu sedari kecil sudah kita lakukan? Dalam buku “Two Ears one Mouth” ini Kussusanti mencoba menjelaskan beberapa permasalahan yang seringkali menjadi noise dalam komunikasi. Penulisnya menyajikannya secara popular untuk kepentingan praktis dan kalangan profesional, namun tentu saja tidak terlepas dari kesan ilmiahnya. Di samping bahasa yang popular-bahasa sehari-hari, penulisnya juga menyajikan sebanyak 70 kasus yang terjadi dalam komunikasi professional dalam dunia kerja. Disertainya kasus-kasus kesalahan komunikasi buku ini mudah dicerna.

Menurut Dosen Komunikasi UI ini, terjadinya kesalahpahaman dalam berkomunikasi karena seringkali kita tidak memiliki kecakapan dalam mendengarkan sehingga kita tidak mampu juga menyampaikanya. Menurutnya kunci penting dalam berkomunikasi bukan apa yang kita sampaikan tetapi bagaimana kita menyampaikannya. Namun sebelum kita menyampaikan sesuatu, hal pertama yang harus kita miliki adalah active listening. Penulis membedakan antara mendengarkan pasif dan dan active listening, jika mendengar pasiv atau hearing ketika kita mendengarkan melalui kuping kanan maka keluar kuping kiri, sedangkan active listening adalah menyimak dan memahami dengan apa yang kita dengarkan.

Kussusanti, sang penulis buku mengajukan syarat agar kita mampu menjadi active listener, hal yang pertama harus dimiliki oleh calon public speaker/ komunikator adalah kemauan (polition). Menurutnya kemauan dalah kerelaan hati dengan tulus dan tanggap untuk mendengarkan orang lain. Dalam hal ini tanggap terhadap apa yang dikatakan orang lain baik melalui bahasa verbal ataupun bahasa nonverbal meliputi perkataan, sikap, dan bahasa tubuh seperti cara bicara, intonasi, gerakan tangan dan lain sebagainya. Syarat kedua agar kita menjadi active listener adalah perhatian (attention). Perhatian ditunjukan dengan bagaimana kita menyiapkan diri untuk memfokuskan kepada orang lain/ pembicara. Kita akan meninggalkan pekerjaan kita demi fokus pada orang tersebut. Syarat aketiga adalah mengerti (understanding). Mengerti menekankan pada persamaan persepsi antara komunikati. Disinilah diperlukannya frame of reference dan field of experience antara komunikati. Bila kedua komunikati (peserta komunikasi) memiliki frame of reference dan field of experience yang sama maka misunderstanding yang terjadi akan dapat diminimalisir. Dalam kasus ini penulis banyak memberikan contoh kasus dengan gambar-gambar seperti gabungan gambar antara nenek-nenek dan gadis yang menjadi satu gambar, orang akan mempersepsikan gambar itu nenek-nenek atau seorang gadis sesuai dengan frame of reference dan field of experience. Syarat keempat adalah mengingat. Seringkali kita lupa apa yang disampaikan oleh orang, menurut Julia T. Wood kita cenderung melupakan sebanyak 50 % dari apa yang disampaikan oleh orang lain. Untuk meningkatkan daya ingat Kussusanti memberikan tips sebagai berikut; menggunakan asosiasi untuk mengingat sesuatu misalnya untuk mengingat nama orang maka diasosiasikan dengan artis; Anggaplah sesuatu itu menjadi penting, misalnya jika ada hal yang dianggap penting dari dosen kita biasanya kita catat atau kita beri tanda dalam buku kita; membuat prioritas, jika memang semua yang disampaikan pembicara penting, maka buatkan prioritas mana yang harus didahulukan; lakukan pengulangan, biasanya sesuatu yang sering kita ucapkan maka kita akan ingat selalu. Simak segala sesuatu sampai mendetail, jika seorang dosen menyampaikan sesuatu dengan contoh, maka biasanya contoh tersebut akan lebih membuat kita mengerti; dan terakhir adalah menciptakan struktur, misalnya ketika mengingat suatu kalimat penting (Quote), temukan dulu ide intinya, kemudian substansi kalimat baru kita tuangkan melalui kata.

Syarat lain yang tidak kalah penting untuk menjadi active listener adalah dengan menanggapi. Jika kita sedang kuliah di kelas, kemudian ada sesuatu yang ingin kita tanyakan, itu merupakan salah satu hal dalam menanggapi. Selain bertanya atau konfirmasi kita juga bisa memberi komentar pendek seperti “iya mengerti”,” o ya saya baru tahu”,” wah hebat”, dan lain-lain. Tanggapan ini menunjukan bahwa kita menyimak pembicaraan orang lain. Selain berkomentar kita juga bisa berempati dengan merasakan apa yang dirasakan orang lain, bertanya, memberikan saran atau memberi pendapat.

Dalam bab selanjutnya Kussusanti memberikan tips praktis mengajukan sebuah syarat bahwa Komunikasi efektif harus dibangun dengan kelugasan atau dibahasakannya dengan istilah Assertiveness. Assertiveness dimaknai sebagai pertengahan dari pasif dan agressif. Jika disandarkan pada sikap, assertiveness adalah suatu sikap yang berada antara rendah diri dan over percaya diri. Assertiveness dapat dibangun dengan membangun relationship (hal.122). Jika ada orang yang salah kita tidak mesti membesar-besarkan, atau jika kita yang benar kita juga tidak mesti merasa bahwa diri kita yang paling benar. Sikap ini menyarankan untuk menghindari debat dan konfrontasi. Syarat lain dalam assertiveness adalah Apreciation. Apreciation merupakan sikap saling menghargai terhadap kawan bicara kita. Apreciation memperhatikan kesesuaian antara bahasa verbal dan bahasa nonverbal dari seorang komunikator. Syarat assertiveness ini juga ditunjukan dengan asking atau pertanyaan yang mengarah langsung, spesifik, masuk akal dan beralasan dan diarahkan dengan humor yang tepat kepada orang yang akan mengabulkan keinginan kita. Ajuan pertanyaan tersebut harus disampaikan dengan penuh percaya diri dan sesuatu yang kita yakini kebenarannya.

Kussusanti, sang penulis buku menutup bukunya dengan memaparkan dinamika komunikasi dalam sebuah konflik yang pada akhirnya akan menyebabkan komunikasi menjadi tidak efektif. Misalnya karena pesannya hilang seperti menyampaikan pesan melalui SMS atau email, pesan menjadi terdistorsi karena kita menitipkan pesan kepada orang lain, karena pesan tidak menarik lantas pesan menjadi terabaikan (neglected), terjadinya misunderstood karena bedanya frame of reference dan field of experience,lebih jauh lagi pesan kita ditolak karena berbeda pendapat. Pada akhirnya buku ini ditutup dengan gaya-gaya konflik dalam berkomunikasi serta bagaimana cara mengatasinya yang dipaparkan secara mendalam oleh penulis.

Karena buku ini bersifat praktis, maka bagi siapapun akan dengan mudah mencernanya, walaupun ada beberapa istilah asing, namun dengan terbuka penulis menjelaskannya sehingga menjadi mudah dimengerti apalagi dengan menyertakan contoh kasus dari masing-masing materi.

Pelajaran yang dapat dipetik untuk para blogger dari buku ini adalah kadang kita malas membaca sebuah artikel yang diposting orang lain, namun terlalu bersemangat untuk memberi komentar sehingga kita salah menangkap pesan apa yang disampaikan oleh penulis artikel tersebut. Kita hanya menafsirkan sebuah judul yang kadang bombastis, namun tidak mengerti isi tujuan dari artikel sehingga kesan yang muncul dalam komentar adalah sebuah komentar yang tidak bijak bahkan cenderung menghujat dan melecehkan penulisnya. Dengan demikian sebelum kita berkomentar panjang lebar terhadap sebuah artikel, bijaknya kita mencerna dan memahami terlebih dahulu isi pesan yang disampaikan penulisnya sehingga tidak terjadi konflik maya.

Buku “Two Ears One Mouth” merupakan karangan seorang akademisi sekaligus praktisi komunikasi; Kussusanti, diterbitkan oleh Grasindo pada tahun 2009 dengan ketebalan 170 halaman.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: