Indahnya Berbagi

Filterisasi Ilmu

“Aku adalah apa yang aku baca, lihat, dengar, dan alami” Idiom ini dapat digunakan untuk menilai atau melihat seseorang secara mudah dan sederhana. Mengapa demikian? karena sesungguhnya kita hanya dapat mengeluarkan apa yang ada dalam diri kita. Tapi, apa harus seperti itukah perwujudan diri kita? Saat diri dengan asyik dan mudahnya berganti-ganti warna hanya karena berubahnya bacaan, tontonan, bisikan, dan segala macam pengalaman yang telah merasuki diri. Syukur bila perubahannya ke arah perbaikan, namun bagaimana bila sebaliknya?

Fenomena di atas semakin jelas terbaca dalam era digital saat ini. Dimana setiap detik selalu saja ada informasi yang mengalir. Kala semakin mudahnya menyedot segala macam informasi dari berbagai sumber. Saat semakin banyaknya medium gratisan yang mewadahi aktivitas intelektual. Saat setiap orang secara tidak sadar telah didorong untuk berlomba-lomba menyuarakan dan menimpali segala informasi yang berkembang. Kala setiap orang dengan suka cita mulai merelakan dirinya untuk dapat “dibaca” oleh publik. Ada dua hal yang dapat ditarik dari pemandangan ini. Pertama, semakin banyaknya orang yang mulai tersadarkan akan pentingnya informasi dan menspiralisasikan (mensuarakan ulang dan membagi) informasi. Kedua, pemandangan seperti ini akan semakin memperkecil area privasi seseorang. Selain itu juga berpotensi untuk melahirkan korban-korban bermodus “gamang informasi”. Maksudnya, orang yang belum mampu memfilter informasi dengan baik, sehingga informasi apapun yang didapat langsung ditelan dan dipraktekkan mentah-mentah, padahal informasi yang didapat itu belum tentu baik dan benar.

Kewajiban Memadatkan Ilmu
Ilmu dapat diibaratkan bagai sebuah cahaya yang dapat menuntun kita keluar dari pekatnya kehidupan. Bagai sebuah tongkat yang dapat menahan kita, disaat tubuh sudah mulai limbung untuk melangkah. Bagai sebuah jendela yang dapat memberikan angin segar, saat diri sudah mulai hampa udara. Dengan demikian, mustahil rasanya kita mampu melenggang di dunia secara sukses tanpa memiliki bekal ilmu yang pas. Dengan kata lain, ilmu mesti kita miliki sebelum kita beramal atau mengaplikasikannya. Keutamaan memiliki ilmu inipun yang ditegaskan Rasululullah dalam sabdanya: “Barangsiapa yang menginginkan dunia, maka hendaklah dia memiliki ilmunya. Barangsiapa yang menginginkan akhirat, maka hendaklah dia memiliki ilmunya. Dan barangsiapa yang menginginkan keduanya, maka hendaklah dia memiliki ilmu”

Selain itu juga, nilai perbuatan seseorang ditentukan oleh ilmu, sehingga antara perbuatan orang yang berilmu dengan perbuatan orang yang tidak berilmu akan berbeda nilainya di sisi ALLAH. Sebagaimana telah ALLAH firmankan dalam surat Az Zumar ayat 9, yang artinya: “… Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran”.

Dengan demikian, masih adakah spot keraguan di dalam diri kita untuk terus mau membenamkan diri dalam samudra ilmu? Apalagi Rasulullahpun pernah bersabda: “Siapa merintis jalan mencari ilmu, maka ALLAH akan memudahkan baginya jalan ke surga” (HR. Muslim)

Jebakan Intelektual
Ada seorang murid bertanya kepada gurunya “Pak, apakah yang salah pada diri saya? Mengapa pemikiran saya selalu berubah-ubah sesuai dengan buku yang telah saya baca? Dan mengapa tidak sedikit orang yang berilmu malah membuatnya jauh dari ALLAH, bukankah ilmu yang dia miliki semestinya malah mendekatkannya pada Sang Pemilik Ilmu?”

Sang gurupun tersenyum, setelahnya mengalirlah kata-kata dari mulutnya “Nak, tahukah kau apa yang membuatmu demikian? Itu tidak lain adalah karena engkau terlalu mengamini segala hal yang engkau baca. Padahal tidak semua pemikiran orang yang kamu baca itu benar, apalagi kamu tahu pasti latar belakang sang pemilik pemikiran itu adalah memang seseorang yang jauh dari jalan ALLAH. Segala ilmu boleh kamu pelajari, segala ilmu boleh kamu taklukkan, tetapi satu yang kamu mesti ingat, jangan sampai ilmu yang kamu pelajari itu membuatmu jauh dari ALLAH. Janganlah kau pisahkan antara ilmu agama dan ilmu dunia, justru akan lebih indah bila ilmu keduniaan yang engkau miliki dibingkai dengan ilmu agama. Toh, sejatinya kita hidup di dunia untuk beribadah bukan? Janganlah kamu tersilaukan dengan rasionalisasi ilmu dunia, yang banyak terselip teori apologetic di sana, yaitu mencari teori-teori yang dapat membuat kesan bahwa teori yang sebenarnya salah itu menjadi benar. Hati-hati nak, seseorang itu akan diserang dengan bagaimana bentukan dirinya. Demikian halnya dengan kaum intelektual, iapun akan diserang dari sisi intelektual atau pemikirannya juga.”

Dengan wajah tertunduk dan air mata menggenang, sang muridpun berkata “Ya ALLAH, tunjukilah aku jalan yang lurus. Yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat”

Kembalikan ke Asalnya
Tidak pernah ada batasan bagi kita untuk menuntut ilmu, bahkan Rasulullahpun menganjurkan kita untuk menuntut ilmu walaupun sampai ke negeri Cina. Sibaklah rahasia alam seluas-luasnya untuk sebuah kebermanfaatan, dan itu hanya bisa dilakukan jika kita memiliki ilmu di dalamnya. Hal ini seperti tercantum dalam Al Quran Surat Ar Rahmaan ayat 33 yang artinya “Hai jama’ah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya melainkan dengan kekuatan”.

Namun satu hal yang tidak boleh terlupa saat kita meliarkan keingintahuan dan mengasah kekritisan pemikiran-pemikiran kita, jadikanlah ALLAH tujuan di atas itu semua. Buat apa kita tahu segalanya, buat apa kita mendapat cap kritis dan cerdas dari manusia, buat apa kita sukses di dunia, jika akhirnya kita hanya mendapat stempel hina dari ALLAH. Padahal, semestinya ilmu yang kita miliki dapat semakin membuat kita dekat pada ALLAH. Betapa bodohnya kita, jika menelantarkan janji ALLAH yang termaktub dalam surat Al Mujaadilah ayat 11 berikut ini: “… ALLAH akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan ALLAH Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Sekarang mari sama-sama kita tanya hati dan marilah sama-sama kita menoleh sejenak ke belakang. Bagaimanakah perilaku berkeilmuan kita? Sudahkah ilmu yang kita miliki menjadikan kita mendekat pada ALLAH atau sebaliknya malah menjauhkan kita pada ALLAH? Jika opsi kedua yang masih bersarang di diri kita, marilah bersama-sama kita putar kemudi dan memperbaharui niat untuk selalu melibatkan ALLAH dalam tujuan awal dan akhir dari setiap aktivitas keilmuan yang kita lakukan. Dan berubah ke arah perbaikan bukanlah hal yang semestinya ditawar-tawar. Ini sejalan dengan yang dikatakan Ahmad Zairofi, “memang, proses menjadi baik itu panjang. Tetapi keputusan untuk memulai menjadi baik hanya memerlukan waktu beberapa saat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: