Indahnya Berbagi

KOMPAS.com – Kata resiliensi berasal dari kata ”resilience” yang artinya daya lenting atau kepegasan.

Kasur dengan per pegas akan melenting kembali manakala beban badan yang menimpanya menekan per pegas kasur. Daya lenting pada manusia adalah kemampuan beradaptasi dengan tekun dan gigih walaupun keadaan terasa serba salah.

Setiap orang harus memiliki daya lenting karena satu hal yang pasti, dalam hidup selalu terdapat kemalangan yang sering tidak dapat dihindari. Contohnya, masih banyak pekerjaan menumpuk di meja padahal hari kerja sudah menunjukkan pukul 16.45. Contoh lain, terdapat kesalahpahaman dengan pasangan. Anak-anak harus tiba di tempat yang berbeda dalam satu waktu tertentu, padahal lalu lintas macet. Menghadapi peristiwa yang sangat berat, seperti terkena PHK.

Bila memiliki daya lenting yang kuat, kita dapat mengatasi setiap kemalangan dengan cara yang memuaskan dengan hasil optimal. Penelitian ilmiah yang dilakukan para pakar psikologi selama lebih kurang 50 tahun terakhir tentang daya lenting membuktikan bahwa daya lenting merupakan kunci sukses seseorang dalam menjalani hidup.

Bagaimanakah kondisi daya lenting kita?

Setiap orang hendaknya mempertimbangkan perkembangan daya lentingnya demi kenyamanan hidup. Namun, pada kenyataan, kebanyakan orang justru secara emosional dan psikologi tidak siap mengatasi kemalangan. Mereka malahan cenderung bersikap menyerah dan merasa tidak berdaya. Untuk itu, berikut ini adalah langkah yang harus kita telusuri dalam meningkatkan daya lenting:

– Kenali diri sendiri, bagaimanakah kebiasaan kita dalam bersikap?

– Hindari terjebak dalam situasi tertentu, seperti menyalahkan diri sendiri.

– Keyakinan kuat apakah yang selama ini menghambat kemampuan kita untuk bangkit? Tanpa disadari, sering kita dipengaruhi keyakinan kuat tentang hal tertentu, misalnya keyakinan bahwa orang lain dan dunia bersikap dan menginginkan sesuatu dari kita.

– Tantangan keyakinan, artinya komponen kunci dari daya lenting adalah kemampuan mengatasi masalah. Sejauh mana kemampuan kita dalam mengatasi masalah sehari-hari?

– Menjaga perspektif dalam hidup, seperti apakah kita sering tenggelam dalam kondisi tertekan dan menghabiskan waktu untuk terus mencemaskan hal yang belum tentu terjadi?

– Tenang dan tetap menjaga pusat perhatian, jangan sampai kita dikuasai stres dan situasi emosional?

– Daya lenting dalam hal tenggang waktu, apakah kita selalu dikuasai pikiran negatif yang muncul dalam benak kita sehingga sulit bagi kita menghadapi kenyataan hidup?

Tujuh kapasitas

Ternyata daya lenting seseorang mengandung 7 kapasitas yang berbeda. Ketujuh kapasitas itu bukan bersifat genetik, seperti halnya tinggi badan, melainkan kita bisa berupaya meningkatkan daya lenting tanpa batas. Daya lenting kita berada dalam kendali kita sendiri, seperti halnya kita bisa menjadi pelari cepat dengan cara berlatih walaupun kita tidak akan menjadi pelari olimpiade. Berbagai hal yang perlu kita latih adalah:

1. Regulasi emosi

Regulasi emosi adalah kemampuan untuk tetap tenang dalam keadaan tertekan. Seorang yang memiliki daya lenting tinggi biasanya orang yang terampil dalam mengendalikan emosi, atensi, dan perilaku. Regulasi emosi sangat penting peranannya dalam menjalin relasi yang intim, sukses dalam kerja, dan mempertahankan kesehatan.

2. Kendali impuls

Dapat dipahami bahwa orang yang mampu mengendalikan emosi pasti mampu mengendalikan impuls. Untuk bisa mengendalikan impuls, kita lebih dulu harus mengenali siapa diri kita. Bila kita mampu mengendalikan impuls, kita akan terhindar dari keterpakuan pada pola pikir tertentu sehingga dapat menggiring kita untuk memiliki kemampuan mendeteksi efek negatif dari keyakinan impulsif yang merugikan diri serta menggantikannya dengan yang positif.

3. Optimisme

Orang yang optimistis biasanya memiliki daya lenting yang kuat karena mereka yakin dapat mengendalikan jalan hidup di masa depan.

4. Kemampuan melakukan analisis-kausal

Dengan kemampuan ini, kita dapat menjelaskan hal buruk dan baik yang menimpa diri sehingga kita tidak terjebak pada pikiran buruk dan dapat meningkatkan daya lenting.

5. Empati

Kemampuan memahami orang lain melalui empati akan membuat kita mampu mendeteksi berbagai kemungkinan perilaku orang terhadap diri kita.

6. Kecukupan diri yang optimal

Dengan keyakinan bahwa kita cukup efektif dalam menjalani hidup, hal itu merupakan representasi keyakinan bahwa kita akan bisa mengatasi kesulitan yang akan kita hadapi.

7. Menggapai cita

Pada umumnya, orang merasakan ketidakmampuan secara berlebih sehingga tidak pernah berpikir untuk melakukan sesuatu atau memiliki ambisi yang sebenarnya bisa diraih. Dengan pemanfaatan optimisme dan mencoba menghapus keyakinan negatif yang berpengaruh dalam diri, kita bisa meraih sesuatu yang fantastik, yang bisa saja tidak kita perkirakan sebelumnya. (Reivich, Karen, PhD dan Hazte, Andrew, PhD, 2002).

Nah, mengapa kita tidak berupaya meningkatkan daya lenting demi peningkatan mutu kehidupan kita?

Comments on: "Daya Lenting Mengatasi Masalah Hidup" (1)

  1. eni setyowati said:

    saya butuh banget pengetahuan seperti ini,,,karena sedang menjalani hal terberat dalam hidup saya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: