Indahnya Berbagi

JAKARTA, KOMPAS.com – Perbedaan sifat individu ternyata mempengaruhi reaksi mereka terhadap stres yang dialami. Orang yang bersifat optimistis lebih mudah beradaptasi secara fisik maupun psikis terhadap stres dibanding mereka yang pesimistis.

Banyak tulisan di media massa maupun dalam berbagai seminar yang mengingatkan bahwa stres yang berat dan berkepanjangan akan mempengaruhi kesehatan fisik maupun psikis seseorang. Sementara itu dalam kehidupan sehari-hari kita melihat bahwa ternyata tidak semua orang memiliki reaksi
sama terhadap stres yang sama. Bahkan tingkat stres yang ringan bagi si A bisa dirasakan sebagai tekanan berat bagi si B sehingga ia mengalami sakit yang berkaitan dengan stres.

Contohnya adalah Andi yang begitu cepat memulihkan diri setelah mengalami kehilangan besar, kekecewaan yang dalam dan bahkan penderitaan yang hebat akibat krismon tahun 1997. Namun tidak dengan Indra yang ternyata butuh waktu sangat lama dan bertahun-tahun untuk bisa mengembalikan dirinya pada situasi normal.

Apa yang menjadi penyebabnya? Mengapa bisa demikian? Menurut Camille B Wortman dan kawan-kawan dalam buku Psychology, hal itu terjadi karena ada
perbedaan kepribadian. Para ahli telah menelusuri bahwa dimensi kepribadian
yang tampaknya berkaitan dengan stres dan penyakit yang ditimbulkan oleh
stres, adalah sifat optimistis dan pesimistis yang dimiliki seseorang.

Dalam penelitian yang dilakukan terhadap para mahasiswa misalnya, mereka yang optimistis dan memiliki nilai ujian tinggi ternyata lebih sedikit yang
mengalami gejala penyakit seperti sakit kepala dan sakit perut, dibandingkan
dengan mahasiswa yang nilainya rendah.

Penelitian lain pun membuktikan bahwa mahasiswa yang pesimistis ternyata dua kali lebih banyak yang mengalami berbagai sakit infeksi dan mengunjungi dokter dua kali lebih sering ketimbang mahasiswa yang optimistis. Maka disimpulkan baru-baru ini oleh para ahli bahwa individu yang optimistis cenderung lebih mudah beradaptasi secara fisik maupun psikis terhadap stres.

Ciri Yang Dikenali
Lantas, bagaimana kita bisa mengenali diri maupun orang lain termasuk kelompok optimistis atau pesimistis? Menurut Worthman dan kawan-kawan, ciri-cirinya dapat diketahui dari bagaimana orang tersebut bereaksi terhadap suatu masalah.

Orang yang pesimistis cenderung untuk menyalahkan diri sendiri jika terjadi masalah yang buruk. Misalnya dia berkata, “Ini kesalahan saya.” Biasanya mereka juga berlebihan menyimpulkan masalah tersebut, dengan berkata,
Masalah ini nggak akan pernah selesai,” dan, “Semua ikut kacau jadinya.”

Bahkan menurut Wortman, orang yang pesimistis lantas mengaitkan peristiwa
kecil di masa lalu dan dianggapnya sebagai ancaman terhadap kemampuannya
untuk menghadapi masalah hari ini.

Sebaliknya, orang yang bersifat optimistis cenderung mengaitkan kejadian yang buruk dengan faktor di luar dirinya, dan biasanya hanya bersifat terbatas serta sementara. “Itu bukan kesalahan saya,” begitu biasanya mereka berkata, atau, “Ini tidak boleh terjadi lagi,” dan juga, “Ini bukan akhir dunia.” Mereka yakin bahwa hal-hal yang baik akan terjadi pada mereka dan bahwa mereka akan mampu mengatasi apa pun masalah yang bakal terjadi.

Mengukur Kecenderungan
Untuk mengetahui bagaimana kecenderungan seseorang, termasuk optimistis atau pesimistis, berikut ini adalah pertanyaan yang dipakai Scheier&Carver untuk mengukurnya. Responden hanya diminta untuk menjawab  “salah” atau “benar”.

Sayangnya tidak dijelaskan bagaimana cara mengukurnya, sehingga kita tidak bisa menggunakannya secara tepat. Namun demikian kita tetap dapat memanfaatkan pertanyaan-pertanyaan berikut ini sebagai bahan introspeksi, bahwa ada sudut-sudut pandang tertentu yang mungkin kurang kita sadari ternyata menjadi penting secara psikologis dan memperlihatkan kepribadian kita. Jika perlu, diskusikan dengan pakar yang Anda percayai.

1. Dalam waktu yang tidak tentu (pada umumnya) saya biasanya mengharapkan segala sesuatu yang terbaik.
2. Jika sesuatu yang keliru bisa terjadi pada saya, maka akan terjadi.
3. Saya selalu melihat sisi terang (sisi baik) sesuatu hal.
4. Saya selalu optimistis terhadap masa depan saya.
5. Saya berusaha keras agar segala sesuatu berlangsung menurut cara saya.
6. Segala sesuatu tidak pernah berhasil sesuai cara yang saya inginkan.
7. Saya seorang yang percaya pada ide bahwa ‘setiap mendung memiliki garis
keperakannya’.
8. Saya jarang mengandalkan hal-hal baik yang terjadi pada saya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: