Indahnya Berbagi

Embun masih segar, ketika sosok anak laki-laki tegap itu bergegas bangun dari mimpi-mimpi malamnya. Iya, hari sudah masuk waktu Subuh. Sebagaimana kebiasaan warga di kampung itu, Sigit segera berkemas untuk pergi sholat ke masjid. Angin sepoi-sepoi menambah syahdunya pagi itu. Setelah menjalankan sholat subuh, Sigit segera menjalankan aktivitas rutinnya di rumah. Sebagai anak muda kebanyakan, Sigit adalah sosok yang mampu dijadikan sebagai contoh, meski kehidupannya sangat sederhana. Dia adalah anak laki-laki pertama dari keluarga seorang petani. Ayah dan Ibunya menggarap sebidang tanah yang sempit, namun cukup untuk membesarkan Sigit dan adik-adiknya. Saat mentari pagi datang menjelang, Sigit segera mengisi bak mandi, menyapu halaman, dan membangunkan adik-adiknya yang masih kecil. Pagi hari itu, Sigit yang masih duduk di bangku SMP mendapat tugas untuk menyiapkan bahan-bahan buat praktikum biologi di sekolahnya, yaitu menyiapkan sabut, tanah liat  dan beberapa perlengkapan untuk mencangkok tanaman jeruk di sekolah. Di dalam tugas tersebut, Sigit satu kelompok dengan Gunawan dan Vivi. Sigit dan Gunawan sudah bersahabat cukup lama, sedangkan dengan Vivi, Sigit baru bertemu sebulan lalu karena Vivi baru pindah dari kota lain. Di kelasnya, Sigit dikenal sebagai ketua kelas yang cukup disegani dan disenangi kawan-kawannya. Hal ini nggak mengherankan, karena dia cukup rajin dan mengerti apa yang menjadi kemauan anggota kelasnya. Secara fisik, Sigit tidak termasuk anak yang tampan, meski dia dikarunia badan yang tegap dan wajah yang menyejukkan. Di samping itu, Sigit juga menjadi bintang dalam pelajaran dan olah raga.  Tak heran jika guru dan siapapun di sekolah itu sangat menyukai Sigit. Matahari telah beranjak tinggi, ketika Sigit memacu sepedanya ke sekolah. Jam pertama hari itu adalah praktek biologi di kebun sekolah. Kebetulan di sekolah Sigit memiliki sebidang tanah yang subur dengan pepohonan jeruk dan cengkeh. Setelah menyiapkan peralatan mencangkok, Sigit dan kelompoknya mulai bekerja. Gunawan bertugas menyiapkan tanah liat yang dicampur humus, Sigit menempelkan tanah liat itu ke pohon yang sudah dikupas, sedangkan Vivi memegang sabut yang akan dijadikan sebagai pembungkus tanah liat itu. Entah siapa yang memulai, tapi tanpa sengaja Vivi dan Sigit bertatapan mata saat mereka pada posisi yang sangat dekat itu. Meski tidak terucap, namun dua hati remaja ini bersorak, bahwa mereka bertemu pandang dalam deru perasaan yang sulit dimengerti. Mereka sadar akan hal itu, sehingga segera sama-sama menunduk malu. Sejak sebulan terakhir ini, Sigit agak dirisaukan dengan kehadiran Vivi, anak dari kota lain yang pindah ke sekolahnya. Sebagai anak pindahan, Vivi mendapatkan perhatian lebih dari anak-anak yang lain. Apalagi Vivi memiliki pesona yang berbeda dengan kawan-kawan sebayanya yang lain. Dengan kulit yang bersih, tinggi semampai, wajah anggun, dan ditunjang juga dengan kepintarannya, menjadikan dia sebagai primadona di kelas itu. (………..bersambung)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: