Indahnya Berbagi

Apa yang terlintas di pikiran Anda begitu mendengar kata Gunung Kidul? Daerah kering kerontang atau malah Didi Kempot yang legendaris? Meskipun memang terkenal karena tanahnya yang kering kerontang dan berkapur, bagi saya Gunung Kidul adalah tempat terindah di DIY. Menikmati ‘musim panas’ di Gunung Kidul sambil bermotor melewati jalan aspal yang mulus dan penuh tikungan tajam sambil menikmati warna-warninya yang menawan adalah salah satu pengalaman paling menyenangkan selama saya di Jogja. Hari Sabtu kemarin saya kembali ke sana dan menemukan satu lagi keajaiban Gunung Kidul yang membuat kabupaten ini menjadi semakin spesial untuk saya.

Yang spesial itu pastinya nggak jauh-jauh dari soal perut. Dan kalau bicara soal Gunung Kidul, kita pasti bicara soal sego abangnya yang sudah tenar ke mana-mana. Namun anehnya, meskipun sego abang menjadi salah satu ikon kabupaten ini, ternyata hanya sedikit tempat yang menjual makanan khas ini. Dan anehnya, banyak penduduk lokal yang nggak tahu di mana tempat yang enak untuk menyam-nyam sego abang!

Tapi jelas tahu tempatnya. Lokasinya berada di jalan utama yang membentang dari Kota Wonosari menuju Semanu. Sekitar 7 km dari pusat kota, sebelum jembatan, di sebelah kanan jalan, ada bangunan gedheg (geribik) berwarna biru muda. Meskipun sangat sederhana, inilah dia ibukota sego abang Indonesia. Tapi anehnya, sentral sego abang ini nggak punya nama! Papan yang ada di depan warung hanyalah billboard iklan rokok yang sama sekali tak mencantumkan identitasnya. Sangat misterius. Namun para penggemar jelas punya panggilan sayang untuk tempat ini. Mereka menyebutnya Jirak, atau nJirak kata orang Jawa, sebuah kosakata lokal yang berarti jembatan.

Ruang dalamnya lumayan luas. Saya yang datang bersama empat orang teman memilih makan sambil lesehan di atas balai-balai beralas tikar. Penataan ruang terasa akrab karena sebuah warung sego abang di Pakem yang pernah saya datangi ternyata mengkopi ambience nJirak ini untuk tempat makannya.

Makanan segera datang. Satu cething nasi merah, sayur lombok ijo, sayur daun kates (pepaya), empal goreng, iso (usus) bacem dan wader (ikan kecil-kecil) goreng. Waktu menunjukkan pukul dua siang sementara saya belum sarapan! Jadilah ajang balas dendam bersettingkan ibukota sego abang Indonesia.

Anda mungkin tidak percaya dengan objektivitas lidah saya yang ternoda dendam kesumat karena belum sarapan. Tapi yakinlah, hidangan ndeso (kampungan ?) khas nJirak ini enaknya pol-polan! Nasi merahnya pulen, kuah sayur lombok ijonya yang banjir amatlah gurih dengan sedikit sentuhan pedas-manis yang mantap. Sayur daun katesnya juga nggak pahit dan jelas enak. Lauknya juga oke, saya paling suka wadernya yang simpel dan sangat nyambung dengan hidangan yang kampungan dan nJawani (Jawa banget) ini. Nggak enak sih mau bilang, tapi harus diakui kalau warung di Pakem kalah telak sama dedengkot sego abang ini . . . Biangnya dilawan!

Setelah puas dan tiba gilirannya mbayar, akhirnya terbukalah rahasia mengapa Sego Abang nJirak nggak terlalu populer di kalangan penduduk lokal . . . harganya metropolitan! Untuk makan lima orang, kami membayar Rp 70 ribuan, tarif yang nampaknya nggak terlalu populis buat area Wonosari dan sekitarnya. Tapi nggak papalah, abis memang enak banget!

Comments on: "Kuliner : Sego Abang di Wonosari" (1)

  1. fotonya gak da sob?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: