Indahnya Berbagi

Sebenarnya agak ragu juga waktu akan membahas warung mangut ini, karena saya yakin banyak di antara pembaca yang sedang menunaikan ibadah puasa. Apalagi menurut survey, kebanyakan pengunjung main-main ke yogya di siang hari, kala perut mulai sibuk berdemonstrasi minta diperhatikan kesejahteraannya.

Tapi sebagai jurnalis yang bertanggungjawab, saya rela dihujat sebagai si penggoda iman. Apalagi prinsip saya di bulan suci adalah: ‘Apalah artinya puasa tanpa godaan’. Kalau berani, ayo selidiki kualitas keimanan Anda dengan membayangkan sekelumit kenikmatan indrawi di bawah ini . . . Are you ready ?

Banyak tempat makan enak yang sudah diulas , tapi jujur saja, hanya beberapa yang layak menyandang status istimewa saking nikmatnya. Jadi mari kita bersama-sama ambil suara dan nyanyikan Sorak Sorai Bergembira karena ada penghuni baru di jajaran elit ini . . . Mangut Welut (belut) Godean.

Rupanya selain Udang Bakar Mang Engking yang fantastis, daerah Godean masih menyimpan harta karun lain yang tak kalah fenomenal. Warung super sederhana ini terletak tepat di depan Gerbang Pasar Godean, di seberang jalannya. Warung ini buka mulai maghrib hingga pukul sepuluh malam di bangunan yang pada siang harinya digunakan sebagai tempat parkir. Ingat, jangan malu untuk bertanya kalau Anda bingung mencarinya.

Waktu datang ke sana (sebelum puasa), saya salah jadwal. Jam lima sore, saya sudah parkir di depan pasar dan alhasil kebingungan mencari sang belut yang jelas belum kelihatan batang hidungnya. Akhirnya bersama rekan perjalanan, saya menghabiskan waktu dengan nongkrong di warung ronde Pasar Godean sambil berlambat-lambat menghabiskan satu mangkok mungil ronde ditemani jajanan pasar.

Setelah menghabiskan ronde dengan waktu super lambat yang layak masuk rekor MURI, kami beranjak ke seberang jalan untuk mencari tahu. Ternyata warungnya sudah buka, bahkan sudah dikerubuti banyak penggemar! Warung yang tidak punya papan nama ini benar-benar sederhana dan nyaris gelap gulita. Beberapa bangku bambu untuk pengunjung tampak kesepian di keremangan.

Menu yang ditawarkan cukup bervariasi. Ada gudeg, lele, lauk pauk baceman, telur, wader (ikan kecil digoreng garing) dan tentu saja sang primadona : mangut welut. Karena cuma dilayani oleh seorang ibu (yang ditemani suaminya), Anda harus sabar menanti.

Akhirnya tibalah giliran. Sepiring nasi hangat tersiram kuah santan yang coklat kemerahan dan berminyak . . . dengan beberapa ekor belut panjang yang cuma segede pensil . . . plus krecek . . . datang menghampiri saya yang sudah tak sabar menanti. Secara tampilan memang tak terlalu dramatis, maklum panganan ndeso (makanan kampung). Secara porsi juga agak kurang (untuk saya lho!), akan lebih sempurna kalau nasinya tambah sedikit lagi.

Saya mencicipi nasi yang dibasahi kuah kemerahan mangut terlebih dulu. . . .

Ya ampun! Seketika itu juga warung yang remang-remang terasa benderang oleh cahaya pencerahan! Lidah ini bagai menemukan pasangan jiwa yang ‘tlah lama dirindukan. Citarasanya yang ‘Indonesia banget‘ segera membanjiri rongga mulut dengan nuansa gurih yang dalam, sedikit cubitan pedas penuh godaan, dan sekelumit manis yang semakin memperkaya simfoni rasa mahakarya dari Godean ini.

Itu baru nasinya lho! Jadi bayangkanlah apa yang terjadi ketika kuah rempah super lezat itu meresap sempurna ke dalam belut kenyal dan gurih yang bergemeretak pasrah ketika gigi-geligi kita menghancurkan tulang-belulangnya yang lembut.

. . . Hasilnya adalah sebuah momen kesempurnaan semi-transendental yang akan selamanya tertanam di lubuk hati.

Bersyukurlah Anda baca ini di bulan puasa. Tau kan, makanan akan terasa berlipat-lipat nikmatnya ketika disantap setelah bedug ditabuh. Jadi kalau Anda warga Jogja, nggak usah bingung mau makan apa untuk buka nanti. Buat yang bukan orang Jogja . . . cari makanan yang enak, terus baca artikel ini sekali lagi sebelum makan. Ingat, jangan lupa baca doa ya?

  • Harga satu porsi nasi mangut + teh hangat = Rp 4000 saja
  • Buat Anda yang awam Jogja, dari Perempatan Tugu Jogja (bukan stasiun!) ambil jalan yang mengarah ke barat (jl. P. Diponegoro). Dari situ lurus terus (lumayan jauh) sampai ketemu pasar Godean. Jangan malu bertanya ya?
  • Pasar Godean juga sentra penjualan kripik belut khas Jogja lho! Pilih belut yang mungil, supaya renyahnya lebih tahan lama.

Comments on: "Kuliner : Mangut Lele Godean, Sleman" (1)

  1. Sugeng Youngtho said:

    Walau saya asli daerah situ (nDeso Senuko timur Pasar Godean 500m)
    dan sudah hijrah di kudus 20th yang lalu, tapi hati ini masih belum bisa meninggalkan si Mangut Belut yang sekarang ada di Timur Toserba Mulia itu.
    Sekedar info klo pagi-sore bisa gerilya di depan stadion TGP (dari perempatan pasar Godean meju utara kira2 1,5 Km) disana juga ada Mangut Belutnya walaupun tidak semantap didepan pasar)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: