Indahnya Berbagi

Dua kata itu seakan akrab denganku dalam minggu pertama Juli 2009 ini. Dua kata yang selalu merepresentasikan dinamika kehidupan manusia pada umumnya. Awal bulan ini, aku merasa badan sangat demam bahkan hampir menggigil karena panasnya. Kepala seolah menubruk bukit dan berkunang-kunang. Mulut terasa pahit dan terkunci. Aku sudah lama sekali tidak merasakan sakit seperti ini. Sepanjang hari hanya berbaring dengan kepala yang terkompres. Rasa-rasanya berdiripun sudah nggak sanggup. Tidurpun selalu terbangun tak menentu. Sepanjang malam istriku dengan sabar mengganti kompres di kepala. Kadang-kadang diciumnya kening ini yang terasa panas seperti bara. Ketika sudah tak bisa bertahan, akhirnya ku menyerah ketika istriku mengajak ke dokter. Aku yang biasanya pegang stir, saat itu sudah menyerah nggak sanggup. Akhirnya dokter memberikan obat dan tentunya aku harus beristirahat yang cukup.

Sepulang dari dokter, ada telepon dari seseorang yang mengundang kami sekeluarga untuk menghadiri penganugerahan the best student malam ini buat anakku yang sulung karena dia memperoleh nilai raport tertinggi tingkat SMP di kotaku. Memang kemarin pihak sekolahnya sudah menyuruh anak itu mengumpulkan foto kopi raportnya. Segera kami bersiap untuk menghadiri acara tersebut malam nanti. Menjelang sore, ternyata anakku yang bungsu mendadak demam tinggi. Hal ini berarti tidak semua anggota keluarga bisa hadir dalam acara itu. Istriku tentu saja menemani si bungsu di rumah dan juga mengantarkannya ke dokter. Akhirnya kami berempat yaitu aku, si sulung, anak ke-2 dan ke-3 yang akan datang di acara itu. Saat menghadiri acara itu, serasa aku mengulang kejadian 25 tahun silam, saat usiaku seumur si sulung, aku pernah mendapat penghargaan sebagai siswa terbaik di SMP sekaligus peraih nilai Ebtanas tertinggi di rayon kabupaten. Juga sempat menjadi duta sekolah untuk menjadi juara 1 cerdas cermat SMP tingkat provinsi. Terasa air mata ini basah karena bahagia. Bahagia karena ada darah dagingku yang dapat memberikan kebahagiaan buat orang tuanya.

Keesokan harinya, kulihat anak ke-3 mulai berkurang keceriaannya. Apalagi yang akan terjadi? Ternyata dia mengikuti jejak adiknya, sakit. Berarti dalam satu rumah ada 3 orang yang sakit : aku, anak ke-3 dan si bungsu. Sudah pasti istriku yang sangat repot. Masih beruntung anak-anak libur, sehingga bisa membantu ibunya.

Ketika sore menjelang, aku mendapat kabar bahwa aku lolos test potensi akademik untuk menjadi karyawan sebuah instansi baru. Dari 366 peserta test, lolos seleksi 110 orang termasuk aku. Setelah tahapan ini, aku masih harus menenmpuh 2 langkah lagi untuk sampai tujuan. Tanggal 14 Juli ini, aku akan mengikuti seleksi tahap berikutnya. Semoga saja langkah ini akan sampai ke tujuan akhir. Itulah sepenggal kisah dalam minggu pertama Juli 2009 yang sangat berkesan buat kami dan keluarga. Semoga kejadian ini akan semakin mendewasakan langkah kami ke depan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: