Indahnya Berbagi

Masih ingat dengan tokoh Vito Carleone yang diperankan oleh Marlon Brando dalam film the Godfather? Di film itu digambarkan bahwa dalam dunia mafia peran seorang don atau godfather sangat penting. Dia lah yang menjadi pusat loyalitas anggota mafia, yang berkhidmad padanya untuk mendapat perlindungan. Para godfather memiliki anggota jaringan yang luas, dari kepala polisi, pengacara, senator sampai tukang parkir yang siap bekerja untuk kepentingannya. Ikatan kekeluargaan dalam dunia mafia sangat kuat, pengkhianatan dapat berakibat kematian.

Dalam organisasi bisnis besar, kalau kita jeli mengamati juga terdapat pola hubungan seperti itu. Ada para godfather dan pengikut-pengikutnya yang loyal. Kita bisa melihat, misalnya, seorang direktur operasional yang senior dan ‘memiliki’ orang-orang yang menjabat di posisi keuangan, pemasaran, dan berbagai bagian lain perusahaan. Pak Anu, ‘orangnya’ pak Itu. Pak Ono ‘orangnya’ pak Ini.

Ada struktur organisasi yang sifatnya informal yang berbeda dengan struktur resmi. Hubungan antara godfather perusahaan itu dengan para loyalisnya bersifat saling menguntungkan. Godfather memberikan pengayoman dan memastikan perhatian yang cukup untuk perkembangan karir para loyalis. Dan sebaliknya, para loyalis memberi dukungan berupa segala keperluan emosional maupun politis sang godfather. Struktur organisasi resmi perusahaan tidak menggambarkan pola hubungan tersebut. Namun, eksekutif yang piawai selalu mengetahuinya, dan memanfaatkan untuk keuntungannya.

Tiga Jaringan Informal

Prof David Crackhardt dari Carnegie Mellon menyebutkan ada tiga jaringan informal dalam organisasi: jaringan advis, jaringan kepercayaan, dan jaringan komunikasi. Pola hubungan mafia di atas adalah bentuk jaringan advis. Para don umumnya hanya didatangi bila seseorang menghadapi masalah. Dalam kondisi normal sehari-hari, orang akan menggunakan jaringan komunikasi sesuai dengan alur pekerjaan masing-masing.

Untuk membicarakan hal-hal yang rahasia dan sensitif, jaringan kepercayaan yang dipakai. Itulah mengapa– bila kita cermati– kelompok makan siang tidak selalu sama dengan kelompok unit kerja. Kelompok makan siang, yang biasa menjadi ajang ’ngerumpi’ dan ‘curhat’, adalah satu bentuk jaringan kepercayaan. Kita biasanya tidak makan siang dengan atasan kita, karena dia bukan anggota ’jaringan kepercayaan’, di mana kita bisa curhat dengan aman.

Namun, kelompok makan siang mungkin tidak dapat berbuat apa-apa bila sesuatu hal buruk menimpa kita. Kita butuh menghadap pejabat tertentu yang kita andalkan untuk membantu. Dia mungkin adalah mantan bos yang sudah pindah bagian, ’orang bijak’ yang selama ini mendukung kita, atau atasan kita sekarang. Kita menggunakan jaringan advis kita di kala mengalami kesulitan.

Apa manfaatnya?

Dengan memahami pola jaringan di organisasi, pekerjaan kita menjadi lebih mudah. Ibarat seorang prajurit, kita sudah mengenal medan dengan baik: topografinya, sikap penduduk sekitar, kekuatan dan taktik musuh, jaringan suplai dan lainnya. Ketika staff kita bermasalah, kita tahu siapa saja di jaringan kepercayaannya yang dia dengar nasihatnya. Ketika membentuk tim lintas departemen, kita bisa menunjuk orang-orangnya yang memiliki peta jaringan yang sesuai. Bila seseorang yang memiliki jaringan kepercayaan luas dibajak pesaing, kita dapat mengantisipasi bahaya eksodus pegawai lain.

Politik kantor adalah keniscayaan bila bekerja di organisasi besar. Memahami peta jaringan adalah satu cara agar kita dapat survive dalam permainannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: