Indahnya Berbagi

Setiap insan memiliki asa dan harapan yang bervariasi di dalam hidupnya. Bagi sebagian orang, sebuah asa adalah sesuatu yang sangat tinggi dan mungkin belum tentu dapat dicapai oleh seseorang di dalam hidupnya. Dalam setiap perjalanan, kadang asa dan cita itu bisa berubah seiring dengan kematangan dan kedewasaan berfikir seseorang. Makin dewasa dan makin matang pola fikir seseorang, maka biasanya akan lebih mudah untuk mencapai asa tersebut. Untuk mencapai suatu cita dalam jangka panjang, seseorang biasanya nggak akan sanggup untuk menjalaninya tanpa dukungan moril dan materiil dari lingkungan yang ada di sekitarnya, termasuk orang-orang istimewa yang menyertainya. Uraian berikut adalah sedikit refreshing atas perkembangan asa yang sempat kujalani hampir 40 tahun. Satu asa yang secara prinsip nggak terlalu berubah, meski waktu telah lama berlalu.

Saat mulai sekolah SD, aku merasakan satu gejolak yang keras untuk maju dalam sisi pendidikan dan kehidupan. Hal ini mungkin tidak terlepas dari lingkungan pedesaan dimana aku tinggal, yang pada saat itu jauh dari hingar bingar kesibukan tapi tenang dalam seluruh aspek kehidupan. Namun hal ini pada satu sisi juga melenakan bagi seseorang yang terbuai dengan angin sawah yang sepoi-sepoi sehingga kita dibuat tidur tanpa kita sadari. Beberapa sosok yang aku lihat sekaligus menjadi pendorong untuk maju adalah guru SD ku yang dengan setia hadir dengan sepeda tuanya. Guru-guru itu selalu menekankan bahwa seseorang yang berhasil adalah seseorang yang memadai dalam sisi pendidikannya. Figur lain adalah para bakul yang tiap hari ke pasar dengan berjalan kaki tidak kenal menyerah. Satu sikap yang keras dan konsisten untuk bertahan hidup. Disamping itu terdapat juga figur petani yang sangat rajin mengolah sawah tanpa kenal bosan dan jemu. Apalagi di saat-saat masim kemarau, dimana mereka mengawal perjalanan air dari jarak berpuluh kilometer dengan berjalan kaki atau bersepeda. Figur-figur itulah yang mendorong diri ini untuk menjadi yang terbaik di angkatanku. Ternyata capaian selama di SD juga sangat fenomenal, yaitu tidak tergoyahkan di puncak klasemen selama 6 tahun.

Menginjak bangku SMP, ada satu gejolak untuk lebih berpacu di dalam sisi pendidikan karena lingkungan sekolah juga menunjang untuk bisa berprestasi. Sebagai gambaran, sejak SD sampai kelas 3 SMP, kami tidak pernah bersentuhan dengan yang namanya listrik karena memang belum ada. Maksimal penerangan adalah petromaks yang harus dipompa secara periodik. Namun dengan berbagai kekurangan sarana, ternyata fighting spirit untuk maju justru semakin menggelora. Setiap mata pelajaran hanya dipahami selama di kelas, sedangkan sesampai di rumah adalah berolah-raga, makan dan tidur nyeyak. Sosok guru masih menjadi figur yang dominan untuk mendorong tetap fight dalam prestasi. Selama 3 tahun sempat jatuh bangun menduduki puncak klasemen. Posisi paling jelek adalah ranking 3 dari 240 orang. Setelah kelas 2 dan 3, prestasi itu semakin stabil dan tak tergoyahkan untuk menduduki puncak klasemen hingga akhir kompetisi di kelas 3.

Memasuki SMA, terasa bahwa motivasi untuk tetap eksis mulai goyah. Hal ini disebabkan dengan datangnya rasa aman karena hampir 100% alumni diterima di jurusan favorit di PTN bergengsi. Istilah kasarnya, asal naik kelas dan lulus dijamin pasti dapat PTN bergengsi. Rasa-rasanya mulai timbul kemalasan untuk berkompetisi. Lebih nyaman dengan status quo yang ada karena tidak membutuhkan usaha besar. Kondisi ini terus berjalan, sehingga prestasi juga jeblok. Sempat rangking 29 dari 44 dan paling tinggi ranking 16 dari 44. Memang saat itu targetnya cuma masuk papan tengah dan safety player saja. Namun dengan status quo yang tanpa usaha keras itupun juga masih membuahkan hasil yang lumayan. Bisa diterima di 2 PTN yang bergengsi meski tanpa disertai usaha yang sungguh-sungguh.

Memasuki bangku kuliah, kondisi ini makin berlanjut dan mungkin makin parah. Meski demikian, ada satu sisi yang masih bertahan, yaitu konsisten sholat tepat waktu sekaligus rajin sholat malam. Prestasi selama kuliah juga memprihatinkan yaitu IPK cuma 2,91. Satu IP yang datang tanpa usaha keras, meski sebenarnya itu wajib disyukuri. Di tengah situasi yang kurang kondusif, saat itulah hadir figur istimewa. Seorang gadis rupawan yang menjadi my first love. Dialah yang seolah menyadarkanku bahwa setiap cita harus diperjuangkan dengan sungguh-sungguh. Memang dia dalam berbagai aspek dibilang sangat istimewa dan selalu mumpuni. Mulai saat itu, motivasi untuk bangkit kembali mulai timbul. Meski dia berusia cukup jauh di bawahku, namun pola pikir dan sikapnya sangat dewasa. Masih kuingat saat kami, dia dan keluarganya berdiskusi untuk menentukan dimana dia akan meneruskan kuliah. Aku saat itu cenderung merekomendasikan dia ke FK, dan ternyata disetujui dan dilaksanakan oleh yang bersangkutan. Saat itulah aku merasakan bahwa fighting spirit ini kembali hidup. Kami kembali sadar bahwa setiap aktivitas jangan dilihat dari hasilnya, namun lebih baik dilihat dari kerasnya upaya yang dilakukan. Apapun hasilnya, itu sudah merupakan kemenangan. Dengan berbagai argumen dan pertimbangan yang matang, saat itu kami tidak meneruskan first love ini menuju jenjang yang lebih tinggi. Aku nggak mau mengganggu studinya, disamping itu aku sudah menentukan kapan waktu dan umur yang terbaik untuk menikah dengan siapapun calonnya. Yang penting adalah calon memenuhi kriteria yang wajar dalam ikatan pernikahan. Figur istimewa ini sekarang tinggal kenangan, namun kami masih sering kontak tentang keadaan masing-masing. Sempat aku berjanji untuk mengundangnya jika satu saat diberi kesempatan mendapat jenjang tertinggi dalam pendidikan, yaitu pengukuhan menjadi guru besar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: