Indahnya Berbagi

Jalan Simpang

Dalam suatu perjalanan tentu kita sering menemukan persimpangan jalan. Untuk menentukan jalan mana yang akan kita lalui, biasanya di mind set kita sudah ada rencana, sehingga kita menjadi yakin dengan arah yang nanti akan kita tuju. Sering ketika kita merenungi hidup ini, terpikir akan banyaknya jalan simpang yang telah dan akan kita lalui. Kalau kita tengok ke belakang, ternyata kita telah sukses melewati jalan simpang yang berliku dan mendaki. Pikiran kita ke depan adalah menapak jalan simpang itu dengan hati-hati, penuh perhitungan dan selalu berdoa agar selamat meniti sampai tujuan. Seperti istilah di atas, saat ini pun aku sedang memikirkan banyaknya persimpangan jalan di depan yang cukup rumit untuk menentukan mana yang akan kulalui. Dari sejarah kehidupan, sejatinya aku sudah terbiasa menemukan jalan simpang sejak masih anak-anak. Jalan simpang itu selama ini benar-benar jalan yang sama-sama nyaman untuk dilalui karena memang memiliki bekal yang cukup untuk melalui apapun pilihan yang akan diambil. Saat ini jalan simpang itu adalah soal menentukan karir dan cita-cita ke depan. Alhamdulillah dengan bekal yang ada saat ini, aku insya Allah memiliki banyak kemungkinan untuk memilih karir di masa depan. Yang jadi masalah adalah karir mana yang akan kulalui. Sempat terpikir untuk memilih jalur publik untuk menggapai cita. Atau seperti sekarang, berkutat di birokrasi. Atau fokus ke pendidikan untuk suatu saat menjadi guru besar. Atau menajamkan knowledge yang ada menjadi seorang enterpreneur. Beberapa tahun silam aku konsultasi dengan psikolog soal apa kompetensi yang paling banyak kumiliki. Setelah melakukan suatu test akhirnya disimpulkan bahwa aku memiliki sikap dan kompetensi yang cocok untuk karir apa saja. Salah satu yang menonjol adalah sikap sebagai leader maupun manajer. Meski demikian, simpulan dari psikolog ini justru menguatkan bahwa apapun karir yang aku pilih akan sesuai. Hal inilah yang justru membingungkan karena nggak ada satu bidang yang sangat dominan. Dengan simpulan tersebut akhirnya untuk penetapan pilihan harus melalui sholat istikharah sebagaimana yang biasa kulakukan selama ini. Kita sadar bahwa setiap pilihan memiliki konsekuensi positif dan negatif yang berbeda-beda sehingga kita harus siap menghadapinya.

Satu pilihan yang pasti adalah surga Alloh SWT sebagai orientasi kehidupan yang paling tinggi, sehingga segala upaya saat ini fokus ke sana. Saat ini aku akan pergunakan waktu dengan a semakin dekat kepada Nya untuk menentukan langkah yang tepat ke depan. Apalagi ada pameo “life begins fourty”. Semoga fokus karir setelah usia 40 ini akan semakin jelas dan mantap serta terbingkai dalam ketaatan kepada Alloh SWT. Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: