Indahnya Berbagi

Keikhlasan

“…dan tidaklah kalian diperintah kecuali beribadah kepada Allah dengan ikhlas…….” (QS 98:5).

Telah kita ketahui bersama bahwa syarat diterimanya amal adalah benar dan ikhlas. Benar mencontoh Rasulullah, ikhlas ditujukan semata untuk mencari keridhaan Allah. Kedua syarat itu tentunya mesti mengiringi setiap amal yang kita lakukan agar kita layak memperoleh surga Allah nanti di yaumil akhir.

Berbicara tentang ikhlas ada tiga ciri keikhlasan yang perlu kita tahu. Pertama memiliki perasaan sama bila dipuji atau dicela. Tidak bangga atau gembira ketika dipuji dan tidak jengkel atau marah ketika dicela. Kedua tidak merasa berjasa atau berprestasi dengan amalnya. “Karena sayalah Islam semerbak di  kecamatan ini, dan sayalah yang pertama merintis pembinaan di kampus itu”, adalah contoh ketidakikhlasan. Ketiga mengharapkan pahala amal itu di akhirat, tidak di dunia,  “in ajriya illa ‘alalladzii fatharani, sesungguhnya upah kami adalah dari Allah yang menciptakan kami…” (QS 11:51).

Berikut ini sejumlah ilustrasi yang mungkin dapat memantapkan azam kita untuk selalu ikhlas dalam beramal.

Kisah pertama. Seorang Arab Badui, tidak disebut namanya, datang kepada Rasulullah kemudian beriman mengikuti Rasul dan meminta untuk ikut hijrah sampai akhirnya ikut Perang Khaibar. Pada saat kebagian ghanimah dia berkomentar “apa ini”? sahabat menjawab “bagian kamu yang telah disiapkan Rasulullah”, “aku ikut Rasul bukan karena ini, tapi aku ingin leherku tertusuk anak panah lalu aku mati dan masuk surga”. Kemudian terjadi perang lagi dan sahabat Arab Badui ini ikut berperang dan terbunuh, lehernya terkena anak panah. Pada saat itu jasadnya dibawa kepada Rasulullah.

Rasul menyolatkannya dan berdoa “ya Allah ini seorang hambamu keluar berhijrah di jalanmu kemudian terbunuh mati syahid dan aku menjadi saksi baginya.

Kisah kedua. Ada kisah populer yang disebut Shahibun Naqab, tentang seorang prajurit di waktu peperangan di masa Umayyah yang dipimpin Maslamah bin Abdul Malik. Ketika terjadi pengepungan sebuah benteng musuh tak ada satupun sahabat yang berhasil membuka benteng itu. Dalam kesempatan itulah prajurit ini masuk dengan melubangi tembok benteng (maka disebut naqab artinya lubang). Lewat lubang yang dia buat itulah tentara Islam akhirnya bisa mengalahkan musuh. Sehabis peperangan Maslamah meminta agar tentara yang melubangi tembok melapor padanya. Setelah sekian lama tidak ada yang melapor, akhirnya datanglah seorang bertopeng menemui Maslamah. “Aku akan beritahu siapa tentara yang melubangi benteng itu, dengan syarat: pertama, jangan tanya siapa namanya. Kedua jangan dicatat dalam sejarah dan ketiga jangan diberi imbalan apapun.” Kemudian Maslamah menyanggupi. Lalu orang bertopeng itu memberitahu bahwa dialah orangnya dan segera setelah itu dia pergi meninggalkan Maslamah.

Kisah ketiga tentang Imam Syafi’i yang berpesan kepada murid-muridnya agar jangan menyebutkan namanya atau menghubungkan satu hurufpun kepada dirinya sebagai penguat argumentasi kebenaran. Maksudnya “ini menurut Imam Syafi’i, ini diambil dari Kitab karya Imam Syafi’i.” Bahkan Imam Syafi’i mengatakan: “Saya tidak pernah mendebat seseorang atau berdiskusi dengan seseorang untuk menjatuhkan atau mengalahkan dia, melainkan saya berharap ketika saya berdiskusi dengannya kebenaran justru akan muncul dari dirinya sendiri.

Keinginan kita untuk senantiasa ikhlas dan menyadari beratnya keikhlasan, hendaknya jangan menjadi penghalang kita untuk beramal. Ulama memberikan batasan : “meninggalkan amal karena manusia itu riya, karena takut dilihat orang kemudian tidak mau beramal itu juga riya, sementara beramal untuk manusia itu syirik, dan ikhlas terlepas dari keduanya”. Artinya janganlah pula karena takut riya kemudian kita enggan beramal. Semestinya terus perbanyak amal tanpa perduli dilihat atau tidak dilihat manusia namun berusahalah untuk tidak terjatuh pada riya.

Ketahuilah bahwa semerbaknya amal dilatarbelakangi oleh keikhlasan. Tersebarluasnya dakwah ke seluruh penjuru dunia adalah contoh nyata hasil kerja pribadi-pribadi ikhlas. Ketika ruang gerak mereka dibatasi mereka mencari ladang lain yang memungkinkan untuk tumbuh suburnya dakwah. 

“Ikhlas adalah bila perkataan, amal dan jihad seorang muslim diniatkan karena Allah swt, mengharapkan ridhaNya dan balasan yang baik tanpa melihat keuntungan maupun penampilan, titel di depan atau di belakang namanya. Dan dengan demikian dia menjadi prajurit aqidah dan fikrah, bukan prajurit atau pejuang kepentingan dan manfaat.

Sesungguhnya amal seseorang bergantung pada niat, dan dia akan memperoleh apa yang dia niatkan…” ( Al Hadits)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: