Indahnya Berbagi

Zuhud Di Dunia

“… maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia melalaikan/memperdayakan kamu dan janganlah pula syaithan memperdayakan kamu dari mengingat Allah”(QS 35:5).

 

 Telah kita fahami bahwa dunia bukanlah tempat tinggal terakhir bagi kita. Kelak pasti kita akan menghadapi kehidupan abadi di akhirat. Untuk itulah seluruh potensi dan aktivitas semaksimal mungkin lebih kita curahkan bagi kehidupan akhirat. Allah berfirman: “Dan carilah dengan apa yang telah Allah anugerahkan kepadamu kebahagiaan akhirat, namun jangan kamu lupakan bagianmu di dunia….” (QS 28:77). Dengan bahasa ringkas perhatikan dunia, namun utamakan akhirat. Jangan dibalik, dahulukan dunia baru sisakan untuk akhirat. Pemahaman yang benar akan hakikat akhirat dan dunia akan memunculkan penyikapan yang benar terhadap keduanya.

 

Rasulullah dan sahabat-sahabatnya merupakan panutan bagi kita dalam menyikapi dunia dan akhirat. Keteladanan mereka tentang hal itu terangkum dalam sebuah kata yang kerap kita dengar : zuhud.  Abdullah bin Mas’ud berkata: Rasulullah tidur di atas tikar dan ketika bangun berbekaslah tikar itu di pinggangnya. Lalu kami berkata : Ya Rasulullah, bagaimana bila kami buatkan untukmu kasur yang empuk? Jawab Nabi : Untuk apakah dunia bagiku, aku di dunia ini bagaikan seorang yang bepergian, berhenti sebentar bernaung di bawah pohon, kemudian pergi meninggalkannya (HR Bukhari). Dalam hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda : Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta dan benda, tetapi kekayaan sebenarnya ialah kaya hati (HR Bukhari-Muslim). Abdurrahman bin Auf meskipun hidup berkecukupan tetapi begitu dermawan dan berpenampilan sederhana, layaknya bukan seorang saudagar kaya. Ketika bersama-sama dengan pelayannya, orang yang tidak mengenalnya tentu tidak akan bisa membedakan yang mana “Abdurrahman bin Auf. Abu Bakar Ash-Shiddiq memberikan seluruh hartanya dfi jalan Allah, sehingga ketika Rasulullah bertanya apa yang dia tinggalkan untuk keluarganya, Abu Bakar menjawab: Allah dan Rasul-Nya. Nampaklah bahwa zuhud telah menjadi pakaian mereka dan dengan itu pula mereka meraih kemenangan demi kemenangan.

Zuhud sebagaimana kita fahami adalah mengambil secukupnya akan apa yang ada di dunia dengan kesadaran dan harapan bahwa kebahagian serta kepuasan yang tak terhingga  nanti akan diperoleh di akhirat. Sikap zuhud akan membentuk seseorang  menjadi pribadi yang qana’ah dalam kesulitan dan kekurangan sekaligus sederhana dan hemat dalam kelapangan dan kelebihan. Ungkapan ala kadarnya merupakan bahasa zuhud yang memang tidak bisa diterapkan sama bagi setiap orang. Bagi fulan A ala kadarnya berbeda dengan fulan B. Kebutuhan dan kondisi setiap orang memang berbeda. Hanya agaknya ada standardisasi minimal yang memang tidak boleh dilewati yaitu jangan mubazir, jangan mengambil hak orang lain dan mampu menjaga perasaan orang lain.

 Tidak mubazir dan tidak mengambil hak orang lain tentu merupakan standar zuhud yang insya Allah tidak begitu sulit bagi kita. Namun tentang menjaga perasaan orang lain alangkah sulitnya bagi kita. Betapa kita harus bisa empati dan hati-hati agar jangan sampai karena kita, timbul rasa ghill bahkan antipati pada diri seseorang. Menurut tinjauan syar’i   kita tidak mubazir dan tidak mengambil hak orang lain. Tapi kenapa masih ada suara-suara sumbang mengomentari gaya hidup kita.  Di sinilah  kecerdasan kita dituntut. Kecerdasan yang dikemas dengan keyakinan akan kemuliaan zuhud. Yang dengan kecerdasan itu kita mampu menyiasati tampilan ideal yang membuat orang ridha pada kita.

Tatkala kita telah mampu zuhud dengan sebenar-benarnya zuhud, saat itulah sebenarnya kita telah berbakti menghidupkan sunnah Rasulullah SAW. Maka semua orangpun akan zuhud pada kita. Mereka tidak akan menuntut lebih dari apa yang kita sanggupi, karena kita telah berupaya semampu kita memahami apa yang mereka ingini. Bila kemudian suatu saat kita mendapati saudara kita belum menjalankan zuhud sepenuhnya, maka jangan ada rasa ghill di hati. Datangi dia, komunikasikan dengan baik dan doakanlah. Semoga Allah membukakan hatinya untuk mau menerima nasihat kita. Yakinlah bahwa saudara-saudara kita adalah pribadi-pribadi terpilih yang mudah untuk menerima nasihat asalkan kita mampu mengkomunikasikannya dengan benar.

“…..dan kaum Anshar tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang telah diberikan kepada kaum Muhajirin, dan mereka mengutamakan kaum Muhajirin atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka sendiri butuh. Dan siapa yang terpelihara dari kekikiran dirinya mereka itulah orang-orang yang beruntung.”(QS 59:9)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: