Indahnya Berbagi

My First Love

Ujian semester berakhir sudah, dan kini tibalah saat yang ditunggu-tunggu, libur panjang. Sudah menjadi kebiasaan sejak SD sampai kuliah, jika musim libur panjang tiba, aku selalu berlibur ke rumah nenek. Rumah nenek cukup jauh dari rumahku yakni sekitar 4 jam perjalanan atau sekitar 250 km. Namun liburan kali ini terasa lebih istimewa karena aku akan bertemu dengan “the beautiful girl”, yang rumah dan SMA-nya berdekatan dengan rumah nenek. Dia memang istimewa di mataku. Selain fisiknya yang oke, isi kepalanya juga sangat excellent, sehingga dia selalu menjadi bintang di SMA-nya. Facenya mencerminkan wajah aristokrat perempuan Jawa yang cantik, jernih dan anggun. Perjalanan kali ini juga terasa lamban karena sudah nggak sabar segera bertemu dengannya. Mungkin ini yang sering disebut cinta monyet. Kadang-kadang jadi lucu kalau diingat-ingat. Misalnya, kalau sudah lihat pohon mangga di depan rumahnya, jantung makin nggak karuan detakannya. Jadi berdebar-debar entah kenapa. Pertemananku dengannya sebenarnya tidak terlalu istimewa karena kami juga sadar bahwa tugas utama kami adalah belajar. Biasanya kalau sudah bertemu kami hanya bicara soal pelajaran matematika, fisika atau kimia beserta rencana UMPTN. Meski demikian, perasaan ini nggak dapat bohong bahwa aku suka dia, meski nggak pernah terucap. Dengan perasaan seperti itu, komunikasi di antara kami jadi kagok karena lidah ini terasa berat untuk bicara. Kadang-kadang kami cuma tertegun, saling menatap dan tersipu malu. Aku perhatikan diapun juga sangat hati-hati kalau bicara di luar pelajaran. Bisa jadi saat itu kami sama-sama sedang falling in love kali ya. Masa interaksi kami cukup lumayan, hingga dia diterima di FK sebuah PTN ternama. Hubungan kami nggak berlanjut karena aku nggak mau kuliahnya terganggu dan satu alasan lagi, dia belum siap pakai jilbab. Ketika aku pamitan ke dia bahwa aku akan menikah, dia tulis dalam suratnya begini “aku berharap pada suatu saat nanti dapat menikah dengan orang sebaik dirimu”. Wow..ternyata selama ini dia juga memendam perasaan itu padaku. Aku sempat menitikkan air mata ketika baca surat terakhirnya, sungguh mengharukan. Perpisahan kami berlangsung baik-baik saja dan sampai saat ini pun kami masih saling berkomunikasi. Biasanya saat lebaran atau saat kami berulang tahun kami saling berkirim sms. Kebetulan kami masih ingat tanggal ulang tahun masing-masing. Alhamdulillah beberapa waktu lalu dia mengabarkan bahwa dia sekarang sudah mengenakan jilbab sebagai bentuk kesiapannya menjadi seorang muslimah yang paripurna. Aku sangat bersyukur dengan hal ini dan berdoa agar dia menjadi seorang muslimah dan istri yang sholihah yang menjadi mutiara dalam keluarganya. Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: