Indahnya Berbagi

Pagi yang indah Januari 1993, dengan langkah pasti dan debar di dada aku menyusuri jalanan menuju rumah seseorang yang kelak menjadi belahan jiwaku. Ya, dengan naik angkot jurusan Pulogadung-Bekasi, aku pastikan langkahku ke rumahnya. Nggak terasa, angkot sudah sampai Jl Juanda, dan diteruskan dengan naik becak. Jantung semakin berdebar menantikan apa yang akan terjadi berikutnya. Sampai di depan rumah dengan cat biru, kuhentikan abang becak. Dengan sedikit gugup dan cemas, aku ucapkan salam kepada pemilik rumah. Seorang bapak dan ibu dengan ramah menyambutku di teras rumah. Sejenak kemudian aku dipersilakan masuk. Hati tambah nggak menentu dan tentunya keringat dingin mengucur. Sejenak kemudian aku bertatapan mata dengan seorang gadis manis, berkulit kuning langsat, tinggi semampai, dan berjilbab rapi dengan wajah jernih keibuan. Aku hanya terkesima, nggak menyangka di awal-awal wanita Indonesia mengenal jilbab, aku temukan sosok gadis manis nan cantik berjilbab rapi. Biasanya dalam persepsi umum saat itu, seorang gadis yang berjilbab biasanya kuno dan tidak modis. Ditambah lagi, ada pameo yang mengatakan sulit untuk mendapatkan gadis cantik yang mau berjilbab. Tidak ada kata yang terucap, tapi hati ini mengatakan inilah karunia Allah terbaik buatku. Perkenalam kami dengan keluarga yang ramah ini dilanjutkan di meja makan, dan dengan sedikit keberanian aku sampaikan kepada tuan rumah bahwa orangtuaku akan melamar putri bapak. Singkat cerita lamaranku diterima meski dengan berbagai macam pertanyaan dari tuan rumah.

Itulah sepenggal perkenalanku dengan sang belahan jiwa yang bagaikan cerita di atas awan. Lucu, aneh, romantis dan penuh makna. Pokoknya sulit diungkapkan dengan kata-kata. Kami akhirnya menikah pada Ahad, 25 Maret 1993. Pernikahan yang begitu sakral dan indah untuk dikenang. Kadang-kadang aku masih suka setel kaset rekaman pernikahanku. Perjalanan hidup kami dimulai dengan perjalanan yang panjang dari Bekasi-Yogya-Bekasi dan ke Padang tempat aku bekerja. Perjalanan paling panjang adalah naik bus Pulogadung-Padang dengan waktu tempuh 30 jam. Kami tinggal di Padang di rumah kontrakan yang cukup luas untuk kami berdua memadu kasih. Yang aneh adalah kasur yang kami tempati hanya separo dari kapasitas tempat tidur yang ada. Ini terjadi karena uangku tidak cukup saat itu. Hari-hari kami di Padang selama 15 bulan kami lalui dengan begitu indah dan kebetulan Allah belum memberikan karunia anak pada saat itu. Tiap pekan kami lalui dengan berkunjung ke berbagai tempat wisata di sekeliling Sumatera Barat.

Banyak kesan mendalam yang aku dapatkan bersamanya. Salah satu yang terus kuingat dan terus dijalankan sampai saat ini adalah dia selalu mencium dengan lembut untuk membangunkan tidur malamku sekitar pukul 3 untuk sholat tahajjud.  Makanya jangan heran jika 3 dari 4 anak yang lahir dari rahimnya lahir pas azan Subuh bergema. Kegiatan libur saat ini juga banyak aku habiskan dengan pergi berdua bersamanya di berbagai tempat. Sengaja kami hanya pergi berdua untuk mengeratkan tali kasih diantara kami.

Ada cita-cita besar yang ingin aku persembahkan buatnya. Cita-cita ini muncul ketika aku waktu nikah dahulu, dia masih kuliah di sekolah agama. Karena harus ikut aku ke Padang, maka kuliahnya terputus. Dengan kondisi ini aku bertekad akan memberikan kesempatan kuliah seluas-luasnya kepadanya ketika aku sampai di Jakarta. Alhamdulillah dengan kehendakNya, sekarang dia sedang mempersiapkan tesis S2 di sebuah perguruan tinggi. Aku berharap kami berdua bisa melaksanakan 6 kali wisuda terhitung sejak kami menikah. 3 wisuda untuknya dan 3 untukku. Saat ini baru 3 wisuda yang sudah terealisasi, yaitu 1 wisuda S1 untuknya, 1 wisuda D4 dan 1 wisuda S2 buatku. Yang tersisa adalah 1 wisuda S3 buatku, 1 wisuda S2 dan 1 wisuda S3 buatnya. Semoga Allah mengabulkan cita-cita kami.

Tujuan kami berikutnya adalah menyiapkan generasi pemimpin masa depan. Si sulung Syifa kami persiapkan untuk menjadi sastrawan atau diplomat ulung. Si nomor 2 Iqbal, kami persiapkan untuk manjadi politikus andal dan bermoral, si nomor 3 Caca kami persiapkan menjadi arsitek dan si bontot Yasin kami persiapkan menjadi pimpinan militer di AKABRI. Itulah cita-cita keluarga kami yang akan berperan besar dalam membangun bangsa ini.

Comments on: "Refleksi 15 Tahun Bersama Belahan Jiwa" (2)

  1. Cerita pribadi yang bagus dan dapat dijadikan pelajaran.
    Semoga saya bisa lebih baik dalam belajar menuliskan kalimat seperti anda,

    salam

  2. iwanagussugeng said:

    Terima kasih mbak Nila. Itu sebenarnya cerita sederhana dari pernikahan kami. Sebagai rasa syukur kepada Ilahi Robbi, saya tulis kisah itu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: